New Design

Recent Post

Monday, 8 December 2014
no image

Godaan terberat

Godaan terberat adalah hawa nafsu terutama nafsu syahwat. Inilah poin utama pihak kafir tak mampu memeluk agama Islam dikarenakan aturan Islam yang melarang maksiat dan perzinaan dimana kedua bentuk tindakan ini adalah hal yang lumrah yang dilakukan mereka. Apakah Islam tidak memiliki unsur hubungan antara pria dan wanita?

Islam hanya menganjurkan jalur pernikahan sebagai gerbang pemenuhan kebutuhan badaniah ini. Nafsu seks selalu ada baik bagi pria maupun perempuan hingga di penghujung hidupnya. Hanya kadarnya saja berbeda. Maka dari itu, iblis laknatullah menjadikan hawa nafsu ini sebagai kendaraan untuk merusak akhlak manusia. Karena kapan seseorang menuruti nafsunya untuk berzina maka seterusnya dia akan ditunggangi iblis hingga akhir hayat dan iblis berupaya sekuat tenags untuk membuatmu tetap di jalan itu.

Iblis dan hawa nafsu adalah sepasang tools cobaan manusia. Iblis mengetahui bahwa manusia memiliki iman yang hebat namun dengan senjata wanita penggoda maka terbuailah keimanan seseorang.

Dunia ini takkan indah tanpa wanita namun dengan keberadaan iblis, kita seyogyanya menahan dan menjaga nafsu syahwat kita. Disitulah ada unsur pilihan. Menolaknya akan membuat batin kita merintak namun suatu hari akan senang dengan keputusan itu.

Maka dari itu Rasulullah sudah mewanti-wanti umat manusia saat selesainya perang badar yaitu perang terbesar di zaman nabi, mengatakan bahwa, kita ini kembali dari perang kecil menuju perang besar. Sontak para syuhada ternganga dan berkata, apakah masih ada perang yang lebih besar dari ini? Ya ada, yaitu perang melawan hawa nafsu.

Untuk menghindari fitnah nafsu ini, mari kita bentengi diri dengan dzikir sebanyak-banyaknya, semoga Allah menjaga kita dari segala fitnah yang diumbar para iblis.

Tuesday, 16 September 2014
no image

Wali Allah Menurut Hakim At Tirmidzi Part 2

Adapun derajat kewalian, dalam pandangan al-Tirmidzi, dapat diraih dengan terpadunya dua aspek penting, yakni karsa Allah kepada seorang hamba dan kesungguhan pengabdian seorang kepada Allah. Aspek pertama merupakan wewenang Allah secara mutlak; sedangkan aspek kedua merupakan perjuangan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah. Menurut at-Tirmidzi, ada dua jalur yang biasa ditempuh oleh seorang sufi guna meraih derajat kewalian. Jalur pertama disebut thariqah al-minnah (jalan golongan yang mendapat anugerah) sedangkan jalur kedua disebut thariq ashhab al-shidq (jalan golongan yang benar dalam beribadah). Melalui jalur pertama, seorang sufi meraih derajat kewalian di hadapan Allah semata-mata karena karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikendaki Allah di antara hamba-hamba-Nya. Sedangkan melalui jalur kedua, seorang sufi meraih derajat kewalian berkat keikhlasan dan kesungguhannya di dalam beribadah kepada Allah. Seseorang yang meraih derajat kewalian melalui jalur kedua disebut wali haqq Allah atau awliya’ huquq Allah dalam bentuk jamak.

no image

Wali Allah Menurut Hakim At Tirmidzi Part 1

Hakim at-Tirmidzi lahir di Tirmidz, Uzbekistan, Asia Tengah pada tahun 205 H/820 M. Nama lengkapnya adalah Abu Abd Allah Muhammad bin Ali bin Hasan al-Hakim at-Tirmidzi. Ia berasal dari keluarga ilmuwan ahli fiqih dan hadits. Memasuki puncak ketasawufan setelah mengalami goncangan batin sebagaimana yang di kemudian hari dialami al-Ghazali. Ia mendefinisikan Wali Allah adalah seorang yang demikian kokoh di dalam peringkat kedekatannya kepada Allah (fi martabtih), memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu seperti bersikap shidq (jujur dan benar) dalam perilakunya, sabar dalam ketaatan kepada Allah, menunaikan segala kewajiban, menjaga hukum dan perundang-undangan (al-hudud) Allah, mempertahankan posisi (al-) kedekatannya kepada Allah. Dalam keadaan ini, menurut at-Tirmidzi, seorang wali mengalami kenaikan peringkat sehingga berada pada posisi yang demikian dekat dengan Allah, kemudian ia berada di hadapan-Nya, dan menyibukkan diri dengan Allah sehingga lupa dari segala sesuatu selain Allah.
no image

Hakekat Wali

Wali diambil dari lafal al-walayah yang merupakan lawan kata dari al-‘adawah. Adapun arti dari al-walayah adalah al-mahabbah (kecintaan) dan al-qorbu (kedekatan). Sedangkan arti al-‘adawah adalah al-bugdlu (kebencian) dan al-bu’du (kejauhan). Karenanya yang disebut wali Allah adalah orang yang dia mencintai Allah 'azza wa jalla dan dekat dengan Allah ta'ala. Dan orang seperti ini harus memiliki sifat-sifat berikut :
Breaking News
Loading...
Quick Message
Press Esc to close
Copyright © 2013 Majalah As-shufi All Right Reserved